Beranda > Artikel > Sains Indonesia Sempat Lebih Maju dari China dan India

Sains Indonesia Sempat Lebih Maju dari China dan India

Senin, 30 Juli, 2007 oleh Merry Magdalena

JAKARTA, Netsains - Indonesia sempat sejajar dengan negara Eropa di bidang sains bioteknologi pada dekade 1980-1990 dulu. Bahkan kita dua langkah lebih maju dari China dan India

“Sekarang Singapura dan Malaysia hanya copy-paste saja program yang kita punya saat itu dan menjadi sangat maju di bidang bioteknologi,” ungkap Hosea Saputro Handoyo, mahasiswa HAN University of Profesional Education di Nijmegen, Belanda kepada Netsains.Com. Hoho, demikian panggilan akrabnya, menyebutkan bahwa masa gemilang sains Indonesia tersebut sempat dipresentasikan di di pertemuan pelajar Indonesia di Eropa di Den Haag, Belanda sebulan silam.

Soal Budaya

Sayangnya masa gemilang itu harus berakhir akibat krisis ekonomi pertengahan 1990. Sebelumnya, strategi pusat riset, kerjasama antara pemerintah dan inustri serta perguruan tinggi di Indonesia sudah cukup ideal untuk menghasilkan studi-studi bidang sains. “Waktu itu kita sudah mulai punya paten dan riset strategis,” jelas lelaki kelahiran 8 November 1985 ini.
Lantas, apakah Indonesia bisa mengeejar ketertinggalan tersebut saat ini? Bisa saja, asal harus ada perbaikan mental dan ekonomi. Menurut Hoho yang menghabiskan masa SD hingga SMA-nya di Bandung ini, kondisi ekonomi memang cukup menentukan situasi kondusif bagi sains.

Tapi lebih dari itu, mental harus diperbaiki. Ia mau tak mau mengakui bahwa ilmuwan di Indonesia kadang masih bersikap malas, kurang disiplin, juga masih sembrono. Bisa juga akibat lingkungan budaya sekitar yang memang pada dasarnya kurang mendukung orang untuk menjadi ilmuwan. Sebut saja contoh, jika ada ilmuwan yang melakukan riset dengan kantong sendiri maka akan dianggap melanggar aturan. Masih ada rasa saling bersaing bahwa orang lain tidak boleh lebih maju dari institusinya.

Networking
Ditambah lagi budaya pelajar Indonesia yang mayoritas menganggap bahwa menjadi pintar di sekolah itu bukan sesuatu yang keren. Pelajar yang membolos atau tawuran dianggap jagoan, sedangkan yang rajin belajar dianggap kutu buku dan tidak gaul. “Saya kan SD sampai SMA di Indonesia, jadi paham banget , deh,” ujar peraih penghargaan Top Best Three Non-Western Students (HBO) dari ECHO Foundation tahun 2007 ini.

Selesai Ambil PhD bidang biologi molekular kelak, Hoho tidak akan langsung kembali ke Indonesia. Ia ingin membangun networking orang Indonesia berpotensi di luar negeri agar bisa meniru kesuksesan China dan India. “Orang Indonesia yang pintar di luar negeri bisa membawa harum nama Indonesia dan menciptakan link yang kuat bagi mereka yang di Indonesia,” demikian Hoho.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Merry Magdalena
Penulis: Merry Magdalena
Tanggal: Senin, 30 Juli, 2007
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori: ,

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Ia adalah moderator milis Technomedia yang membernya sejumlah pakar TI, pengamat Iptek, jurnalis, bahkan Menristek dan Menkominfo. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi. Konsennya terhadap dunia Iptek melahirkan Netsains.com yang dirintisnya bersama teman-teman. Kini ia sedang berusaha keras menyelesaikan beberapa buku lagi sembari terus menjadi jurnalis dan mengelola Netsains.com dan www.qbheadlines.com.

Tulisan Terkait:

Banner

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>