Beranda > Artikel > Multitasker Itu Dilahirkan, Bukan Dibuat

Multitasker Itu Dilahirkan, Bukan Dibuat

Rabu, 18 Juli, 2007 oleh Merry Magdalena

JAKARTA, Netsains.

Jika Anda mampu terlibat dalam percakapan dengan beberapa orang sekaligus secara simultan dalam waktu bersamaan, sebaiknya Anda merasa lega. Kalau Anda dapat memahami dengan mudah beberapa pembicaraan sekaligus, Anda juga patut bersyukur. Itu artinya Anda adalah seorang multitasker. Dan beruntunglah Anda sebab selain mampu memahami pembicaraan, Anda juga dapat mengerjakan beberapa tugas sekaligus dalam tempo bersamaan.

Ternyata kemampuan multitasking ini tidak dapat dilatih. Sebab sebuah studi teranyar mengatakan bahwa seorang multitasker itu dilahirkan, bukan dibuat. Kok bisa?

Studi yang dipublikasikan di jurnal Human Genetics tersebut mampu membantu ilmuwan mempelajari kasus dimana ada orang yang kemampuan pendengarannya sempurna namun tak dapat memahami ucapan orang.

“Ini adalah studi pertama yang membuktikan bahwa manusia memiliki variasi yang cukup luas dalam kemampuan memproses apa yang mereka dengar. Perbedaan itu terkait dengan factor genetik,” ujar James Battey, direktur National Institute on Deafness and Other Communication Disorders, di bawah naungan National Institutes of Health (NIH).

Faktor DNA

Telinga memang sangat penting dalam menangkap suara. Tapi tidak semua orang dengan pendengaran sempurna mampu memahami suara tertentu. Kemampuan memahami itu lebih melibatkan otak daripada telinga.

Ada bagian dari otak yang bertanggunghajab mengekstrak informasi yang tersaring dari suara. Banyak penderita gangguan pendengaran ternyata mengalami gangguan otak sehingga kesulitan dalam memahami sekitarnya. Gangguan ini disebut dengan Auditory Processing Disorders (APD). Di Amerika Serikat saja diperkirakan ada 7 persen dari seluruh anak usia sekolah yang terjangkit gangguan ini.

Riset tersebut melibatkan 138 kembar identik dan 56 kembar fraternal yang hadir di festival Twinsburg, Ohio, dari tahun 2002 hingga 2005. Mereka berusia antara 12 hingga 50 tahun. Semuanya memiliki pendengaran normal. Setelah melalui sejumlah tes, ditemukan bahwa kemampuan mereka dalam memahami percakapan lebih dipengaruhi oleh genetik. Pada kembar identik yang memiliki DNA sama, memiliki kemampuan pemahaman yang sama juga. Sedangkan pada kembar fraternal yang tidak semua DNA-nya sama, memiliki kemampuan yang berbeda. Fakta ini memperlihatkan bahwa faktor genetik cukup berperan dalam kemampuan satu itu.

Jadi apabila Anda merasa sulit terlibat memahami suatu percakapan, maka agak sulit untuk melatihnya, sebab memang Anda tidak dilahirkan untuk itu. Bisa jadi Anda adalah tipe orang yang lebih mudah memahami sesuatu secara visual, bukan audio. Tapi beruntunglah mereka yang dapat bercakap-cakap dengan lancar dengan beberapa orang sekaligus.***

Diterjemahkan secara bebas dari LiveScience

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(1 suara, nilai: 3⁄5)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Merry Magdalena
Penulis: Merry Magdalena
Tanggal: Rabu, 18 Juli, 2007
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori: , ,

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Ia adalah moderator milis Technomedia yang membernya sejumlah pakar TI, pengamat Iptek, jurnalis, bahkan Menristek dan Menkominfo. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi. Konsennya terhadap dunia Iptek melahirkan Netsains.com yang dirintisnya bersama teman-teman. Kini ia sedang berusaha keras menyelesaikan beberapa buku lagi sembari terus menjadi jurnalis dan mengelola Netsains.com dan www.qbheadlines.com.

Tulisan Terkait:

Banner

1 Komentar untuk “Multitasker Itu Dilahirkan, Bukan Dibuat”

  1. Multi tasker ini berkonotasi positive, tetapi terkadang malah bisa menjadi negative, karena orang tersebut bisa saja menjadi orang yang tidak punya konsentrasi khusus, sehingga akhirnya hanya memiliki keahlian2 yang umum saja. Seperti orang amerika yang sejak kecil telah diarahkan orang tuanya untuk memiliki spesialisasi dalam satu bidang yang paling disukainya saja. jadi bagaimana antara spesialisasi dan multitasker? apa yang terbaik?

    NB.
    Artikel ini dan beberapa artikel lainnya kami masukkan ke dalam halaman website artikel universitas bangka belitung.
    silahkan cek disini :
    http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php
    Terimakasih yach … kami tunggu artikel2 bermutu selanjutnya

    Wassalam
    Hendra Leonar
    http://www.ubb.ac.id

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>