Menggali Kembali Kearifan Ekologis Leluhur
“Di sungai ini dulu Nak, airnya mimplah-mimplah (melimpah), mengalir bening dan banyak ikannya”. “Kalau sore sekitar jam 5 bapak ibu belum punya lauk, Saya dan adik laki-laki langsung bergegas mengambil tawu bumbung (perangkap ikan dari bambu ) dan kemudian pergi ke sungai ini. Tak sampai maghrib, kami sudah bisa membawa pulang beberapa ekor ikan ukuran sedang.”
Inilah pengalaman Saya waktu singgah di Desa Bonosari, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebuman. Kebetulan Desa yang saya sebut tadi adalah tempat tinggal kakek dan nenek Saya.
Seperti tipikal Desa-desa Nusantara, hampir semua penduduk dan keluarga di Desa Bonosari tersebut masih saling bertalian darah. Pendatang hanya sebagian kecil. Itupun karena sebab ikatan perkawinan atau lokasi pekerjaan yang mengharuskan pendatang untuk tinggal.
Rumah yang pertama Saya sambangi adalah rumah Lik (Bahasa Jawa : om) Solikhin, biasa dipanggil Lik Likin. Dia masih termasuk suadara dekat istri Saya.
Bercerita panjang lebar sambil ditemani kopi dan jajan pasar ala kadarnya, Lik Solikhin dengan sukses menahan Saya untuk tak beranjak dari lincak (bangku sederhana dari bambu) depan rumahnya. Cerita-ceritanya yang sederhana namun sarat makna telah mengusik sisi jurnalis dan keilmuan saya.
“ Mbah dulu sering mengingatkan Kami. Kalau tanah di kanan kiri bantaran sungai sudah mulai gogrok (berguguran), ya ditanduri (ditanami) sak anane kayu karo suket (seadanya tanaman keras dan rumput-rumputan). Mbah biasanya rajin membibit jati, sonokeling, akasia, dan ketapang. Pohon-pohon itulah yang akhirnya Kami tanam bersama rumput-rumput dari lapangan desa”, Lik likin.
Sambil menerawang ditengah kepulan rokok lintingannya, Lik Likin meneruskan, “Mbah juga sering mengajari kita untuk menanam rumput ganggeng (semacam ganggang sungai) di legokan (ceruk-ceruk sungai)”. “Kata Mbah, biar ikannya banyak, jadi kalau pas kehabisan lauk bisa ditangkap, haha”, imbuh Lik Likin setangah bercanda.
Saya terdiam sejenak. Lik Likin kini berusia 73 tahun. Wejangan Mbah dterima saat usia Lik Likin menginjak belasan. Apa artinya? Berarti sekitar 60 tahun lalu Mbah telah memberikan pendidikan lingkungan yang luar biasa kepada anak-anaknya.
Mbah mungkin tidak mengenal arti reboisasi. Hampir pasti Mbah juga tak mengenal istilah green belt, fungsi mekanis akar, teori ekologi, rantai makanan, niche, apalagi nursery.
Tapi praktek yang dilakukan oleh Mbah dan Lik Likin telah melampaui berbagai teori ekologi yang selama ini Saya pelajari.
Tanaman keras yang ditanam di bantaran sungai akan memberikan dampak perkuatan tanah, mensuplai atmosfer yang dibutuhkan untuk lingkungan sekitarnya, dan memberi naungan untuk ekosistem di bawahnya. Serasahnyapun tak akan terbuang sia-sia. Dengan bantuan alam dan beberapa mikroba, proses composting akan mereposisi fungsi serasah menjadi nutrisi alam yang penting. Rumput juga memiliki fungsi sama, menjaga permukan tanah, baik secara biokimiawi, maupun secara mekanis dengan akarnya.
Saran Mbah untuk menanam rumput ganggeng juga sangat beralasan. Ikan-ikan sungai membutuhkan tempat untuk berlindung, melakukan breeding, dan sebagai nursery untuk menempelkan dan melindung telur-telurnya. Proses ini berlangsung hingga memasuki fase juvenil. Selain itu, ganggeng juga bertindak sebagai filter feeder bagi lingkungan nursery ikan, sekaligus mengurangi kecepatan arus air dan mengawal proses pertumbuhan.
“Sekarang sungai ditambang pasirnya, pohon-pohon juga ditebang untuk parkir trukdan pengangkut kayu”. “Anak-anak sekarang lebih suka pakai potas (apotas), akibatnya ikan kecil-kecil ikut mati dan ikan besarpun makin jarang didapat”, keluh Lik Likin.
Penambangan pasir liar bukannya memperluas dimensi melintang sungai.Aksi ini malah mempercepat proses sedimentasi dasar sungai. Ditambah pohon-pohon perkuatan yang makin jarang terlihat. Alhasil, disamping debit air yang makin turun, pinggiran sungai banyak mengalami erosi.
Pemakaian racun seperti apotas memberikan efek yang sama dengan pukat harimau. Ikan-ikan muda yang seharusnya bisa tumbuh dewasa ikut mati bersama-sama dengan ikan dewasa. Belum lagi biota lainnya. Keseimbangan dan kelangsungan ekositem jadi terganggu. Ingat juga, sifat karsinogen dari racun-racun tersebut akan memberi dampak terbesar pada pemegang tampuk rantai makanan tertinggi, manusia.
Lik Likin diam sejenak sambil memandangi halaman rumahnya yang cukup luas. “Di halaman ini dulu Mbah punya banyak pitik (ayam), jumlahnya mencapai ratusan”, sambung Lik Likin.
Lik Likin meneruskan, “Mbah selalu membakar blarak (daun kelapa kering) dan mengasapi kandang secara teratur. Kalau ada pitik yang pileren (tetelo) biasanya langsung dipisah, kalau nggak langsung disembelih dan dibelet (dikubur dalam tanah)”.
Ya, proses sanitasi dan penanganan penyakit secara cerdas telah dilakukan oleh Mbah. Tak perlu peralatan pengasap yang mahal dengan jadwal pemakaian sampai rebutan. Cukup dengan daun kelapa kering dan proses sederhana, kebersihan dan kesehatan kandang tetap dapat dijaga.
“Mbah tidak punya kolam ikan, jadi kotoran ayam dibiarkan saja di halaman”. Untuk mengurangi baunya, Mbah biasanya mencairkan kapur torah dan ditebar di halaman”.
“Setiap 3 bulan sekali, lokasi kandang dipindah. Bekas kandang biasanya ditanami dengan tanaman buah. Tumbuhnya biasanya lebih cepat dan buahnya juga lebih bagus. Mungkin karena pupuk kotoran pitik tadi ya?” Setangah bertanya Lik Likin menjelaskan.
Apa yang dilakukan Mbah adalah manajemen kandang yang sedehana sekaligus efektif. Meski mirip dengan peladang berpindah, namun konsep ini lebih menguntungkan bagi alam sekitarnya. Tindakan memindah kandang secara berkala juga memberi kesempatan pengkayaan nutrisi bagi tanah di bawahnya. Hasilnya, tanah lebih subur dan tanaman yang ditanam di bekas kandang tadi tak bakal kekurangan nutrisi.
Saya jadi ingat, dulu setiap tanaman buah seperti mangga dan jambu diberi brongsong (semacam selongsong buah dari anyaman bambu). Tujuannya selain menghindari predasi dari kelelawar atau hewan pengganggu lainnya, brongsong juga berfungsi mengawal proses pematangan buah. Ah, satu lagi teknologi sederhana yang efektif.
Hari menjelang Petang, Dengan sedikit menerawang lik Likin pun menutup pembicaraan. “Dulu di sini banyak manuk puter (mirip burung dara). Mbah marah sekali kalau ada anak-anak yang mlinthengi (mengetapel) burung-burung tadi”. Kata Mbah, “Kalo manuknya habis, ngga ada yang nembang (nyanyi) lagi lho”.
Benar juga, dari bangun pagi hingga petang hari, Saya tak lagi mendengar kicauan merdu dari penembang-penembang alami itu. Apa yang dikatakan Mbah ternyuata benar-benar terjadi.














Beri Komentar