Lompat Trampolin Makin Bahaya
JAKARTA, Netsains - Hati-hati saja bagi para pehobi lompat trampolin. Sebuah studi terkini membuktikan bahwa aktivitas tersebut makin berpotensi kecelakaan.
Ilmuwan Rhode Island Hospital melaporkan bahwa pada dasawarsa ini jumlah kecelakaan akibat lompat trampolin berlipatganda dibanding satu dasawarsa silam. Data dari tahun 2001-2001 mengindikasikan rata-rata 75.000 anak per tahun berakhir di UGD rumah sakit di seantero AS. Data lanjutan, 2000-2005 menunjuk angka 531.378 kasus kecelakaan akibat trampolin atau 88.563 setiap tahunnya. Sebanyak 95 persen kecelakaan itu terjadi di rumah.
Padahal pada studi tahun 1990-1995, hanya ada 41.600 kasus kecelakaan saja tiap tahun. Studi yang dipresentasikan di pertemuan tahunan American Academy of Pediatrics ini memperlihatkan peningkatan progresif jumlah kecelakaan setiap tahun.
“Studi pertama kami pada subjek ini membuat kami lebih konsen dan harus memberi peringatan pada para orang tua,” ungkap James Linakis, PhD, MD, pakar pediatri asal Hasbro Children’s Hospital. “Di AS, terjual 1,2 juta trampolin pada tahun 2004 saja. Kami ingin agar orang tua mencegah aktivitas berlebihan anak-anak pada alat olahraga tersebut.”
Jenis kecelakaan yang paling banyak adalah pada jaringan kulit luar, sebanyakj 256.509 kasus, disusul dengan retak tulang dan pergeseran tulang sebanyaj 168.402 kasus. Usia yang paling banyak menderita kecelakaan adalah 5-12 tahun.
Bagi orang tua yang anaknya merengek minta dibelikan trampolin, sebaiknya kreatif memilih jenis permainan fisik lain saja.
Diterjemahkan secara bebas dari Sciencedaily











Beri Komentar