How Design Works in Industrial Way ?
Jangan menilai buku dari sampulnya. Pepatah itu agaknya tidak terlalu berpengaruh dalam artian harfiah. Dalam memilih buku kerap kali kita cenderung mencari buku dengan desain sampul menarik, sedap dipandang mata. Untuk mencapai ke arah itu pun, seorang desainer sampul buku harus memutar otak luar biasa kerasnya.
Sepagian ini saya mendengerkan keluhan teman, seorang desainer di satu penerbitan. Dia bingung karena atasannya gonta ganti ide. Bottom line-nya adalah dia malu kalau yang dipilih menjadi sampul buku bukan “masterpiece”nya. Usut punya usut ternyata mereka berdua, si Desainer dan si Bos sama-sama punya kriteria yang berbeda. Yang satu berorientasi penjualan, industri, dan teknis pengerjaannya. Sedang si Desainer mengacu pada nilai estetika dan ilmu desain yang dia peroleh selama menimba ilmu di institut seni.
Pada dasarnya, kedua point of view tersebut tidak ada yang salah dan benar. Yang berbeda adalah skala prioritasnya. Dari pengalaman saya mengutak-atik desain buku, sebenarnya ada beberapa poin yang bisa diperhatikan. Berikut saya susun berdasarkan skala prioritasnya.
1. Judul. Pemilihan judul yang tepat serta “berteriak” mampu menarik minat pembeli buku dan “sedikit” mengabaikan bagaimana kualitas cover secara keseluruhan, meskipun metode ini tidak akan berlaku bagi buku-buku bertema desain.
2. Keterbacaan judul Dominasi komposisi judul merupakan syarat kedua, karena pada saat kita mampu membaca dan melihat dari jarak yang lumayan jauh tanpa harus mengernyitkan dahi. keterbacaan judul ini tidak hanya bergantung pada ukuran, tetapi juga pada komposisi warna dan komposisi ilustrasi
3. Warna Dalam desain, warna merupakan kepribadian. Jadi pada saat kita memilih warna dominan dalam desain, kita harus tahu benar kepada siapa buku tadi akan berbicara, dan persepsi apa yang ingin dibangun.
4. Sinopsis Sinopsis atau ringkasan isi buku di back cover merupakan alat bantu lain selain point di atas, karena di sinopsis ini kita bisa berbpromosi sedikit tentang isi buku.
5. Komposisi Komposisi disini meliputi beberapa faktor, yaitu background, ilustrasi, dan tipografi. Latar belakang atau ilustrasi yang terlalu kuat dapat berakibat pada pembeli akan kehilangan fokus pencarian buku atau bahkan berakibat pada kebingungan pembaca dalam menerka apa sebenarnya isi buku tersebut. Komposisi ini berfungsi juga untuk menyeimbangkan sudut pandang pembaca dan mampu membuat si pembaca nyaman dan bangga apabila membaca buku tersebut. Satu catatan penting adalah bahwa hanya boleh ada satu poin desain yang ditonjolkan, misalnya bila judul dirasa kurang begitu “berteriak” maka harus point lain yang ditonjolkan misalnya ilustrasi atau latar belakang.
6. Empati Seringkali desainer dan pemegang policy hanya mempertimbangkan selera dan poin of view mereka. Padahal sesungguhnya mendesain buku harus berorientasi pada selera, tren dan sudut pandang pembaca, kalau si pembaca remaja maka selera, trend dan sudut pandangnya harus sama dengan para remaja saat ini. Begitu juga sebaliknya. Desain yang baik juga harus memperhatikan fungsi dan ergonomis pembaca.
Sinergi ke enam poin tadi harus ada antara desainer dan pemegang policy. Kalau belum ada sinergi, sama saja bohong karena perbedaan sudut pandang ini berakibat fatal bagi keduabelah pihak. Sebagai bawahan, si Desainer harus panjang sabar dan siap kecewa karena best effort mereka tidak dihargai oleh pemimpinnya.
Imbas yang paling buruk dari ketidaksinergian ini adalah komentar pendek dari pembaca “Buku ini isinya menipu !” atau bahkan aku pernah dengar komentar yang lebih menyakitkan hati “Penerbit bodoh, buku kayak gini kok diterbitkan”.













Beri Komentar