Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 suara, nilai: 5,00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Energi Terbarukan Tidak Ramah Lingkungan

JAKARTA, Netsains.

Sebuah kabar yang membuat merah telinga para konservasionis dan ilmuwan. Energi terbarukan tidak selamanya ramah lingkungan. Terkejut?

Setidaknya demikianlah hasil studi yang menguji seberapa banyak lahan yang dibutuhkan demi menghasilkan sumber energi terbarukan itu. Hasilnya adalah sebuah perubahan sistem global yang akan mengubah wajah bumi kita saat ini.

“ Membangun pembangkit tenaga angin, air, serta menumbuhkan biomassa demi memproduksi berkilowat-kilowat listrik akan melibatkan invasi besar alam,” ujar Jesse Ausubel, ilmuwan dari Rockefeller University, New York.

Ausubel sampai pada kesimpulan ini setelah melakukan kalkulasi jumlah energi yang dihasilkan dari setiap lahan yang digunakan. “Kami mengamati dan mengukur hasil dari setiap sumber energi terbarukan dan menimbang untung ruginya,” lanjut Ausubel seperti yang dikutip LiveScience. Hasil studinya dipublikasikan di edisi teranyar International Journal of Nuclear Governance, Economy and Ecology dan ternyata tidak terlalu menggembirakan. Misalnya saja studi yang dilakukan pada 2005. Di studi ini digambarkan bahwa kebutuhan listrik bagi seantero Amerika Serikat (AS) membutuhkan lahan pembangkit energi tenaga angin seluas Texas. Kota New York saja memerlukan lahan seluas Connecticut yang dilengkapi dengan infrastruktur pembangkit energi tenaga angin. Setiap kilowatt listrik yang diperlukan otomatis dikonversikan ke luas lahan yang akan dipakai. “Baik biomassa atau angin akan menghasilkan satu atau dua watt listrik per meter persegi. Jadi setiap watt yang kita pakai di rumah kelak akan mengorbankan lahan tanah di luar sana,” jelas Ausubel. Efisiensi Namun teori Ausubel ini masih dibantah oleh ilmuwan lain. Menurut John A. Turner, dari U.S. National Renewable Energy Laboratory, kalkulasi yang dilakukan Ausubel tidak cukup tepat. “Secara umum, bias dikatakan penggunaan densitas energinya tidak mencakup keselurugan isu dan kemampuan bagi sumber yang berbeda. Turner menjelaskan, jika senatero AS didukung dengan energi sel surya dengan tingkat efisiensi 10 persen, maka area seluas 10.000 mil persegi dapat diterangi oleh panel-panel surya. Sistem ini cocok bagi wilayah panas seperti Arizona dan Nevada. Menurut Turner, ada satu hal yang dilupakan Ausubel, yakni bahwa teknologi mampu membuat efisiensi ruang yang cukup berarti. Analisa Ausubel menyimpulkan bahwa sumber energi terbarukan seperti tenaga surya dan biomassa tetap saja tidak ramah lingkungan. Berdasar temuannya, untuk menghasilkan energi yang diperlukan negaranya saja akan memahan lahan 965 mil persegi, itu sama saja dengan nyaris satu area Iowa. Pembangkit listrik tenaga sel surya akan memakan lahan 58 mil persegi, ditambah dengan lahan untuk penyimpan energi. Ini memang lebih ramah lingkungan. Jauh lebih efisien justru pembangkit nuklir. “Tapi tenaga nuklir dihantui dengan isu profilerasi. Isu tentang kandungan radioaktif pada nuklir sudah cukup sukses membuat publik antipati pada teknologi ini,” komentarnya. Betul bahwa energi nuklir ramah lingkungan jika dilihat dari karbon yang dihasilkannya, tapi harus dipikirkan juga limbah nuklirnya yang justru lebih berbahaya. Senada dengan Ausubel, Gregory A. Keoleian, salah satu direktur Center for Sustainable Systems University of Michigan, mengatakan bahwa perlu analisa mendalam sebelum manusia melangkah lebih jauh dengan energi terbarukan dan pembangkit nuklir. Anggapan bahwa energi terbarukan tidak ramah lingkungan dan nuklir itu ramah lingkungan, masih terlalu provokatif. Harus dikaji lebih lanjut ke depan bagaimana energi terbarukan akan mengubah wajah dunia kelak. Diterjemahkan secara bebas dari LiveScience

 Tentang Penulis: Merry Magdalena

Merry Magdalena Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, "Situs Gaul Gak Cuma buat Ngibul" (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2009), "UU ITE, Don't be The Next Victim" ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.

 Sudah selesai membaca artikel ini? Ayo beri komentar!

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.