Beranda > Artikel > Diskriminasi Kebijakan Tarif Telekomunikasi

Diskriminasi Kebijakan Tarif Telekomunikasi

Sabtu, 14 Juli, 2007 oleh Mas Wigrantoro

Perang tarif demi merebut pelanggan membuat operator kadang “silap mata”. Banyak pelanggaran yang entah disadari atau tidak. Salah satunya adalah diskriminasi antar mereka sendiri. Sampai hari ini masih ada diskriminasi tarif layanan Fixed-Wired Access (FWA) , yang disenggarakan oleh Telkom (Flexi), Indosat (StarOne), Bakri (Esia) yang semuanya menggunakan teknologi CDMA. Dikatakan diskriminasi apabila dibanding dengan layanan Mobile Cellular yang diselenggarakan oleh Telkomsel, Indosat, XL, Natrindo, Hutch (menggunakan teknologi GSM) dan Mobile-8, Sampoerna (CDMA). Jadi ini isu perizinan jenis layanan, bukan isu persaingan teknologi GSM vs CDMA.

Dikatakan diskriminasi karena dari sisi kemampuan kedua teknologi memiliki kemampuan yang sama untuk mobile communication, namun FWA, karena dianggap menggantikan telepon tetap diberi tarif penggunaan frekuensi yang lebih murah dari tarif yang dikenakan kepada layanan selular. Padahal dalam prakteknya, FWA ternyata digunakan untuk mobile juga . Sebut saja kasus Flexi Combo. Hasilnya, terjadi unbalanced tarif Biaya Hak Penggunaan (BHP) Frekuensi antara selular dan FWA.

Setidaknya ada 3 opsi untuk melakukan penyesuaian tarif BHP frekuensi: alternatif pertama, tarif FWA dinaikkan agar sama dengan tarif selular, atau sebaliknya, tarif selular diturunkan agar sama dengan FWA. Konsekuensi dari pilihan pertama, tarif ritel FWA(yang dibayar pelanggan) akan naik, sedangkan dampak alternatif kedua, tarif selular akan turun. Opsi ketiga, FWa dinaikkan dan selular diturunkan. Opsi ketiga ini agak sulit dan cukup lama prosesnya karena mesti mengubah Peraturan Menteri dan regulasi terkait lainnya.

Secara agregat, proporsi pelanggan FWA, hanya sekitar 5% dari total pelanggan telepon di Indonesia. Jika pilihan pertama diambil, kemungkinan kenaikan tarif sebesar kurang lebih 40% secara langsung akan dirasakan oleh sekitar 3 juta pelanggan Flexi, StarOne dan Esia. Sementara jika pilihan 2 yang diambil, 5% pelanggan selular akan diuntungkan, namun pada saat yang bersamaan operator selular akan mengalami penurunan revenue dan pemerintah akan kehilangan sekitar 40% dari total Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor telekomunikasi yang jumahnya mencapai triliunan rupiah per tahunnya.

Walhasil, keduanya merupakan pilihan yang sulit. Nah dengan asumsi rasional, bahwa kecenderungan dalam pengambilan keputusan kebijakan publik adalah memilih alternatif yang dampak negatifnya paling kecil bagi masyarakat luas (termasuk pemerintah), maka saya memerkirakan Regulator Telekomunikasi akan memilih menaikkan tarif CDMA dari pada menurunkan tarif seluar.

Sialnya, kebiasaan yang sampai sekarang berlaku di sektor telekomunikasi, kurva permintaan tidak elastis. Setiap kenaikan harga tidak serta merta diikuti dengan penurunan permintaan. Sebaliknya malah meningkat atau tetap . Dari sini, saya menduga, bahwa meski tarif FWA naik, permintaan terhadap layanan telekomunikasi akan terus meningka. Karena demand yang masih tinggi ini, maka ada alasan kuat bagi operator selular untuk ikut menaikkan harga layanan.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars
(Belum ada rating)
Loading ... Loading ...

Info Tulisan

Penulis: Mas Wigrantoro
Tanggal: Sabtu, 14 Juli, 2007
Tipe Tulisan: Artikel
Kategori:

Cetak Artikel Ini



Biografi Singkat:
"Memberi dalam beberapa hal lebih baik dari menerima. Jika yang dipunya hanya buah pikir, memberikan buah pikir yang berguna bagi orang lain sudah merupakan wujud bersosialisasi", begitulah penjelasan dosen pengajar di Universitas Budi Luhur, Perbanas, Moestopo dan Universitas Indonesia ini tentang dirinya. DI sela kesibukannya mengajar dan memimpin PT. PJN, Mas Wig masih sempet menorehkan pemikirannya dalam beberapa tulisan.

Tulisan Terkait:

Banner

Beri Komentar

Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>