“Mimpi” tentang industri mikroelektronika Indonesia
Belum lama kami menyelenggarakan acara “A Tribute to Samaun Samadikun” di Pusat Mikroelektronika ITB. Acara ini kami gandengkan dengan acara seminar yang diselenggarakan oleh Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB.
Acara saya mulai dengan sedikit pengantar. Ada banyak ide dan visi pak Samaun yang masih saya coba pahami. Banyak idenya yang sulit untuk diterima secara serentak karena membutuhkan penjelasan yang lebih lanjut. Saya sampaikan tiga dulu saja.
Pentingnya industri elektronika di Indonesia. Perlu saya tekankan kata “industri” dan “elektronika” karena di sinilah kata kuncinya. Yang elektronika dulu, karena itu bidang saya. Elektronika ternyata mampu menjadi penghasil devisa bagi negara kita. Indonesia jelas membutuhkan devisa. Kata selanjutnya adalah industri. Industri dibutuhkan karena mereka menyediakan lapangan pekerjaan dalam skala yang besar, ribuan orang. Hanya, pertanyaan saya adalah apakah industri di sini harus dalam bentuk manufakturing?
Brain reserve. Banyak orang yang mengatakan bahwa ketika seorang Indonesia bekerja di luar negeri, maka kita kehilangan orang tersebut. Bahkan ada yang lebih keras lagi dengan mengatakan bahwa orang yang bersangkutan tidak nasionalis. Coba kita lihat dengan kacamata lain. Jika orang tersebut bekerja di Indonesia, mungkin dia tidak bisa mengembangkan talentanya secara optimal (maksimal). Bukankah lebih baik dia bekerja di luar negeri? Nanti, suatu saat ketika kita sudah memiliki jumlah orang yang banyak (cluster) di luar negeri, mereka bisa kita minta pulang untuk mengembangkan industrinya dalam skala yang lebih besar (tidak sendirian). Jadi, kita melihatnya sebagai “brain reserve”, yaitu cadangan yang kita titipkan untuk sementara di luar negeri.
Investasi dan kualifikasi. Untuk mengembangkan industri atau bisnis elektronik ini kita harus mau melakukan investasi. Tentu saja invesitas bisa dari dalam negeri atau luar negeri. Tetap saja, bahwa kita membutuhkan investasi. Berikutnya adalah kita harus mau dikualifikasi untuk ikut di kancah bisnis ini. Kalau memang kita tidak layak, ya harus rela minggir (dan belajar lagi).
Tentu saja penjabaran singkat ini belum bisa menjelaskan kesemuanya itu. Setidaknya itu contoh ide yang saya tangkap dari pak Samaun. Hebatnya, dia tidak menyerah begitu orang mengatakan tidak mungkin atau negatif.
Setelah itu kemudian ada komentar dari peserta diskusi seperti dari pak Kastam (Pusat Mikroelektronika), Armein (Pusat Penelitian Teknologi Informasi dan Komunikasi, ITB) Yana (Quasar), pak Buntoro (Mak, Yogya), pak Azis (PT Inti), Akhmad Bafagih (Esitrack), Paula (yang berlibur dari Jerman, melepaskan diri dari OLED), Jeffry Samosir (Tritronic), dan pak Richard Mengko (Ristek).
Ada beberapa poin dari diskusi di sana, yang akan saya coba tuliskan secara singkat. Yang pertama adalah perlunya pemahaman dari posisi masing-masing. Yang akademisi, seriuslah di bidangnya, jangan coba-coba memikirkan bisnis. Yang di bisnis juga serius dalam bidangnya dan mengajak akademisi untuk menurunkan “barier” yang dihadapinya.
Pak Buntoro mengatakan bahwa ada empat (4) domain yang terkait dalam satu siklus. (1) ilmu pengetahuan, yang menghasilkan; (2) teknologi, yang digunakan untuk; (3) manufaktur / industri, yang menghasilkan; (4) bisnis. Keuntungan dari bisnis ini kemudian digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi duduk di nomor (1), mengembangkan ilmu pengetahuan. Orang bisnis menangani (3) dan (4). Di nomor (2) keduanya beririsan dan berinteraksi. Namun di nomor (2) ini, pengembangan teknologi, seringkali tidak ada yang menjadi lead.
Mengenai format atau struktur dari industrinya sendiri, tidak harus manufakturing. Yana dan Armein mengatakan bahwa value creation-lah yang lebih penting. Di situ ada creativity yang bisa dimanfaatkan. Demikian pula pak Buntoro mengatakan bahwa jumlah orang itu bisa menyesatkan karena ukuran yang harus digunakan adalah produktivitas (per orang). Jika jumlah orangnya makin banyak tapi produktivitas turun, apa dapat dikatakan makin maju? Pak Armein bahkan mengatakan bahwa mungkin orang Indonesia tidak cocok dengan pabrik?














Beri Komentar