Iklan bentar, yah. Buat maintain server. :)

Netsains.Com on Facebook
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (2 suara, nilai: 3,00 ⁄ 5)
Loading ... Loading ...
| More

Disini juga iklan bentar, yah...

Generasi yang Dimiskinkan

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan menyebut terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin Indonesia. Pada Maret 2006 sebanyak 39,05 juta atau 17,75 persen dari total 222 juta penduduk. Penduduk miskin bertambah empat juta orang dibanding yang tercatat pada Februari 2005.

“Apakah saya kalau sudah besar nanti bisa beli ponsel seperti Mama?” Pertanyaan itu dilontarkan seorang anak perempuan delapan tahun bernama Libby, beberapa tahun silam. Sebuah pertanyaan simpel tapi cukup membuat saya berpikir panjang. Panjang sekali, sampai berhari-hari.

Waktu saya seusia Libby, saya tak pernah bertanya apakah kelak kalau sudah besar nanti sanggup membeli mobil atau rumah seperti bapak saya. Dulu saya pikir memiliki mobil dan rumah pribadi terjadi begitu saja pada setiap orang. Sama sekali tak pernah terlintas apakah kelak saya bisa mendapatkannya.

Faktanya, sekarang saya sudah cukup dewasa, berpenghasilan tetap dan nyaris seusia bapak saya saat punya anak dulu. Apakah saya mampu membeli mobil atau rumah

Dengan gaji saya saat ini, untuk menabung membeli mobil atau rumah di kawasan Jakarta adalah sangat tidak mungkin. Padahal saya bukan kaum duafa atau fakir miskin. Saya adalah kaum middle class. Berpenghasilan di atas UMR, memiliki handphone, bisa jajan ke Mc Donald, sesekali naik taxi, dan membeli pakaian bermerk luar. Pendidikan sarjana strata satu, bisa berbahasa Inggris, paham Internet dan komputer, menikmati film Hollywood di bioskop 21, membaca Harry Potter dan Lord Of The Ring. Singkatnya, sungguh sebuah kelas yang tak bisa dibilang miskin. Semua teman-teman seusia saya tak jauh beda kondisinya. Namun, kembali ke pertanyaan semua: Apakah kami sanggup membeli mobil dan rumah dengan uang kami sendiri?

Lalu saya mencoba beranalisa. Apa sebenarnya yang membuat kita yang berpenghasilan tetap lumayan ini begitu “miskin” sampai tak bisa membeli mobil dan rumah. Orangtua saya sampai sekarang tidak butuh handphone. Kalaupun bapak saya punya, itu karena dia mendapat hanphone bekas dari saya. Iuran pulsanya setiap bulan cukup disiplin, Rp.100.000 saja plus waktu tenggang tiga bulan. Bapak saya juga tidak perlu ke bioskop 21, membeli Harry Potter atau buku trend lainnya. Ia sama sekali tak tergoda untuk mampir ke Warnet untuk tahu apa itu email. Bapak saya juga tidak doyan Mc Donald, KFC, Pizza Hutt apalagi Komalas.

Kedua orang tua saya sama sekali tak ambil pusing kalau ada restoran waralaba luar yang baru buka. Semua kebiasaan ini sudah berjalan sejak mereka muda, jauh sebelum saya lahir. Tentu saja zaman itu belum ada Studio 21, Mc Donald, KFC, Chilli’s, Starbuck, dan sebagainya dan sebagainya. Belum diketemukan ponsel, laptop, DVD player, PDA, atau apapun itu.

Naik taxi pada era ibu saya dulu menjadi kemewahan tersendiri. Sangat bertentangan dengan gaya hidup saya sekarang dimana dengan mudah menyetop taxi hanya untuk sekadar ke mall atau janjian dengan teman. Zaman ibu saya muda dulu, sebelum mampu beli mobil, naik taxi hanya dilakukan dalam keadaan mendesak seperti ke rumah sakit atau terburu-buru karena ada sanak saudara meninggal. Melihat fakta di atas maka jelaslah sudah kenapa orang tua saya mampu membeli mobil dan rumah sedangkan saya tidak. Mereka tak perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli ponsel, pulsa ponsel, akses Internet, noton bioskop 21, menyewa dan membeli DVD, naik taxi keseringan, mengunjungi aneka gerai restoran waralaba, membeli pakaian bermerk, dan semua kebiasaan konsumtif bedebah itu. Hiburan mereka dulu hanya sebatas nonton ke bioskop biasa yang tiketnya standar. Naik taxi sesekali saja.

Kencan paling mewah kalau tidak ke rumah makan padang ya restoran masakan Cina. Tentunya semua bernilai rupiah, sebab belum ada restoran lisensi asing di era itu. Tempat wisata pun yang ada Taman Impian Jaya Ancol, Kebun Binatang Ragunan atau Taman Mini. Belum ada mall-mall, plaza-plaza, town square yang sarat dengan aneka belanjaan harga ratusan sampai jutaaan rupiah. Belum bertongolan pula beragam kafe yang menjajakan secangkir kopi senilai Rp.30.000 plus plus. Ditambah lagiera itu rupiah masih sedemikian kuat sampai-sampai menurut Ayu Utami tukang becak mampu membeli jeans Levi’s orisinil!!!

Dengan harga jeans Levi’s yang terjangkau oleh abang becak, bisa dibayangkan berapa harga mobil dan rumah masa itu. Tentulah amat sangat murah bagi ukuran kantong kita sekarang. (Jeans Levi’s orisinil sekarang berkisar antara 200.000-700.000 rupiah, sama dengan sebulan gaji pembantu hingga SPG).

Menyimak fakta-fakta di atas kian jelas sudah jawaban yang kita butuhkan. Yeah, sudah bisa dapat bayangan mengapa orang tua kita dulu mampu membeli mobil dan rumah sementara kita tidak, padahal kami sama-sama masuk golongan middle class. Orang tua saya dulu mendapat peluang lebih banyak untuk menabung membeli mobil dan rumah yang kebetulan zaman itu harganya sungguh terjangkau. Saya, juga jutaan generasi saya, dari kalangan middle class, tidak akan mampu memiliki mobil dan rumah hasil jerih payah sendiri.

Untuk kedua kebutuhan tersebut setidaknya saya harus bekerja ekstra keras dan mengurangi banyak kenikmatan. Kalau bisa double job dan mengirit, mengurangi pola hidup konsumtif. Namun dengan risiko dikucilkan dari teman sepergaulan saat ini, tubuh lebih ringkih akibat keletihan dan sakit-sakitan. Jalan lain adalah mengikuti undian berhadian, kuis, atau pasang lotere dan taruhan. Siapa tahu menang? Tapi katanya ini haram. Menjadi perampok bank? Carder? Pemeras? Hus, ini lebih haram lagi.

Atau mengharap warisan orang tua? Kalau kita berasal dari high class, itu tak jadi masalah. Ingat, saya berasal dari middle class dimana warisan tak terlalu bisa diharap bisa menopang masa depan. Ada lagi solusi lainnya kalau ingin punya rumah dan mobil, yakni menikah dengan orang kaya atau setidaknya anak orang kaya. Buat yang ini saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Kalau sudah begini, saya akan pusing tujuh keliling ketika anak saya kelak bertanya, “Ma, kalau saya sudah besar nanti apakah saya bisa membeli mobil dan rumah sendiri?” Barangkali saya akan segera mengekploitasi bakat anak saya itu dan segera menempanya menjadi artis seperti Joshua, Tasya atau Sherina. Rasanya itu solusi yang tidak haram. Solusi bagi sebuah generasi yang dimiskinkan oleh zaman.

 Tentang Penulis: Merry Magdalena

Merry Magdalena Merry Magdalena adalah mantan jurnalis desk Teknologi Informasi dan Iptek di Sinar Harapan. Ia sempat memenangkan sejumlah penulisan jurnalistik bidang Iptek, Lingkungan dan TI. Di sela kesibukan sebagai jurnalis, Merry juga masih menekuni hobi menulis buku dan berorganisasi di dunia maya. Bukunya yang sudah terbit "Cyberlaw, Tidak Perlu Takut" ditulis bersama Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, "Situs Gaul Gak Cuma buat Ngibul" (Gramedia Pustaka Utama, Mei 2009), "UU ITE, Don't be The Next Victim" ... Selengkapnya »
 
  Tautan balik ditutup, tapi anda bisa memberi komentar.

 1 Orang paling keren sudah memberi komentar disini

  • Defny HolidinDefny Holidin mengatakan:

    Dua Fakta penting mengenai kemiskinan:
    (1) Kriterianya belum disepakati oleh para ekonom, kecuali kategorium miskin-fakir yang sudah jelas dalam rangka pembayaran zakat dan pemberdayaan kaum dhuafa’.
    (2) Statistik kemiskinan akan menunjukkan perubahan drastis: mengalami kenaikan tajam ketika pemerintah hendak mengucurkan program bantuan langsung tunai, subsidi, dsb; menurun tajam menjelang laporan tahunan dan pemilu/ pilpres.

    Meskipun ukuran miskin sendiri masih belum disepakati oleh para ekonom, bagaimana ukuran miskin atau tidak jelas bisa dirasakan oleh masing-masing individu yang bersangkutan. Tesis ini semakin memperjelas bahwa “menjadi miskin” atau “dimiskinkan” tidak hanya disebabkan proses kebijakan yang salah sasaran dan administrasi negara yang salah urus tetapi juga dilengkapi perilaku setiap individu yang berakumulasi menjadi pemborosan kolektif. So, saatnya menjadi gerakan bersama, sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Mengutip, “Orang-orang miskin/ fakir dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”, bisakah?

 Beri Komentar

1. Isi form Nama, Email, dan Komentar anda dibawah ini
2. Jika anda telah Login, anda hanya perlu mengisi Komentar
3. Kami berhak untuk memoderasi setiap komentar yang anda kirimkan
4. Dimohon untuk selalu menggunakan tata bahasa yang baik dan sopan
5. Dilarang berpromosi atau menaruh iklan di dalam komentar!
6. Dilarang mencantumkan lebih dari 1 link (tautan)
7. Jika melanggar, kami tidak akan menegur. Komentar langsung dihapus atau ditandai sebagai spam.