Anak-anak dan komputer, makin lama makin sulit dipisahkan. Sekolah yang mengajarkan komputer pada anak-anak juga kian menjamur. Sayangnya para pengajar atau penyusun materi ajar komputer untuk anak-anak, sering tidak sadar meracuni anak-anak ini, yakni dengan menggunakan peranti lunak bajakan.
Padahal banyak sekali program Open Source untuk anak-anak. Pada prinsipnya dalam memperkenalkan komputer ke anak-anak, yang diutamakan adalah anak-anak belajar konsep komputasi dan pemecahan masalah secara logis dan algoritmis misal dengan menggunakan komputer. Mereka tidak perlu atau malah tidak cocok kalau harus belajar program yang biasa digunakan orang dewasa yang sebetulnya digunakan untuk lingkungan kantoran.
Mungkin masih ingat dengan bahasa pemrograman LOGO yang digunakan untuk anak-anak. Di sinilah kesalah kaprahan yang juga terjadi dalam pengajaran perangkat lunak ke anak SD di Indonesia.
Program Anak-anak
Berikut ini beberapa perangkat lunak permainan edukatif yang bersifat Open Source. Cocok mulai dari anak usia pra TK. Permainan ini saya cobakan ke Madhava, putra saya, sejalan dengan perkembangan usianya. Dia cukup menikmati untuk bermain dengan permainan tersebut. Permainan itu antara lain :
Pysycache [http://www.pysycache.org/], permainan ini sangat simpel karena ditujukan untuk anak-anak pra TK untuk mengenal bagaimana mengoperasikan mouse, keyboard sembari bermain. Pada permainan ini terdiri dari berbagai aktifitas sederhana misal puzzle, mencari obyek dan sebagainya. Si kecil dengan cepat dapat memahami permainan ini dan sibuk dengan permainan ini. Bahkan Anda dapat mengubah atau memodifikasi permainan ini dengan mudah. Si kecil sibuk bermain, ortu juga sibuk mengubah permanian ini. Permainan komputer jangan sampai digunakan sebagai substitusi orang tua, sebaiknya malah dimanfaatkan sebagai perekat antara si kecil dan orang tua. Permainan ini memberikan kesempatan itu.
Gcompris [http://gcompris.net/], permainaln edukatif ini terdiri dari beberapa akfititas yang ditujukan untuk anak usia 2 hingga 10 tahun. Beberapa aktifitas ini berupa permainan tetapi memiliki nilai edukasi. Dari permainan yang memperkenalkan komponen komputer,belajar matematika, belajar ilmu alam, belajar cara kerja mesin sederhana, bermain musik, peta buta, bermain ingatan, belajar membaca jam, juga bermain catur. dan sudo serta program misal untuk menggambar membuat kartun. Karena program ini tersedia bebas termasuk source codenya, banyak orang tua, guru-guru dan dosen yang turut aktif mengembangkan permainan dan menyumbangkan aktifitas. Hingga saat ini sudah mencapai 100 aktifitas.
Karena tersedia source code-nya, maka Anda dapat menyesuaikan dengan kebutuhan Anda, gambar latar belakang, suara dalam bahasa (nikmati efek yang dihasilkan ketika si kecil mendengar permainan itu menggunakan suara orang tuanya), dan sebagainya. Jadi bukan saja si kecil yang bermain, Anda pun dapat bermain dengan source code program ini.
Bila Anda sudah mulai mengenalkan pemrograman, maka pilihan untuk itu adalah Squeak [http://www.squeak.org] yang merupakan lingkungan pemrograman berbasiskan Smalltalk (lingkungan OOP lengkap pertama). Squeak ini telah dikembangkan dan juga menjadi Etoys [http://www.squeaklang.org] yang digunakan untuk mengajari pemrograman anak-anak SD di luar negeri. Negara tetangga Singapura telah menggunakannya di SD. Tidak heran Squeak ini memiliki fondasi yang kuat, karena dikembangkan oleh Alan Kay.
Tentu saja masih berlimpah ruah permainan anak-anak yang bersifat bebas dan legal. Baik permainan yang untuk sekedar bersenang-senang atau permainan eduakatif. Pilihannya hanya di kita, para orang tua dan pengajar.



Betul banyak sekali opensource (kode sumber terbuka). Banyak programmer yang bersusah payah membuat untuk digunakan secara gratis, namun kesadaran pengguna komputer di sekolah-sekolah belum banyak yang memiliki pemahaman komputer (TIK) secara utuh. Mereka lebih senang menggunakan yang bajakan dengan kode sumber tertutup. Saya berpendapat agar masyarakat pengguna komputer (dunia pendidikan) paham tentang hukum-hukum cara menggunakan software, harus dimulai dari pemerintah dulu, agar di kantor-kantor pemerintah harus bebas dari software bajakan. Mungkin buatlah suatu program Gerakan Penggunaan Software Gratis dan Open Source.
Betul, banyak Open Source yang sudah dihasilkan di sourcefoge.net namun belum banyak anak-anak bahkan masyarakat umum yang tahu mengenai keberadaannya.
Mungkin sosialisasi perlu dimulai dengan instansi atau siapapun yang mau membuat kompilasi software-software open source tersebut dalam bentuk CD dan dibagi-bagikan secara gratis.
Perbanyak pelatihan-pelatihan berkelanjutan, jangan hanya seminar sehari-dua hari yg hanya memperkenalkan kulit luar dari software open source 
Salam kenal, saya setuju dengan pendapat bapak, kebetulan saya alumni Gunadarma dan sekarang saya bekerja sebagai guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada salah satu sekolah swasta di daerah bangka, kemang. Selama ini, tepatnya sudah mulai satu tahun yang lalu saya sudah mengajarkan software berbasis open source seperti tuxpaint, gimp, open office, kids typing skills dan masih banyak lagi kepada siswa-siswi saya dan asal bapak tahu saja, software berbasis open source yang diajarkan di atas memiliki banyak kelebihan dan salah satunya adalah user friendly dan sangat disukai anak-anak. Memang tak banyak guru TIK yang mampu mengajarkan software berbasis open source hal ini dikarenakan kurangnya SDM terlatih khususnya di bidang pendidikan TIK tingkat SD, SMP sampai SMU yang “mau semangat” untuk terus belajar sesuatu yang baru. Saya tertarik membaca tulisan bapak, karena menurut saya, meskipun pemerintah meluncurkan OS baru bernama IGOS tapi tanpa diiringi dengan pelatihan pendidikan berbasis open source dari tingkat sekolah hingga perguruan tinggi, pastinya masyarakat akan kesulitan beradaptasi, mengingat selama ini masyarakat masih bergantung dengan software berlisensi tertentu. Adapun topik mengenai “Penggunaan software open source pada pendidikan ” inilah yang kebetulan akan saya paparkan pada konfrensi TIK e-Indonesia Initiatives di ITB, besok lusa. Semoga harapan kita bersama, agar kelak suatu saat nanti “generasi muda” di masa depan nanti akan lebih banyak dan lebih “terbiasa” menggunakan software berbasis open source sehingga kelak menjadi pribadi yang menghargai hasil karya cipta di bidang Teknologi Informasi. Trimakasih atas masukannya.
saya kesulitan mendownload programnya…
terlalu rumit.Mohon kasih yang lebih simple aja….